Friday, October 30, 2015

The Mystically Beautiful and Unique Makassar-Toraja Trip #2

Selamat pagi! 
Hari kedua trip Makassar-Toraja saya habiskan di beberapa tempat wisata Makassar serta perjalanan menuju Toraja. Sebelumnya, jangan lupa isi tenaga dengan sarapan bergizi! Selamat jalan-jalan!

Kawasan Wisata Alam Bantimurung. Sampai di tempat wisata saya disambut dengan gerbang masuk berbentuk kupu-kupu berukuran besar, ya, karena kawasan wisata ini dikenal dengan kupu-kupu sebagai daya tarik utamanya. Di tempat ini sedikitnya terdapat 250 spesies kupu-kupu yang dilindungi pemerintah. Menurut Wikipedia, antara tahun 1856-1857 Alfred Russel Wallace menghabiskan sebagian hidupnya di sini untuk meneliti berbagai jenis kupu-kupu. Wallace menyatakan Bantimurung sebagai The Kingdom of Butterfly. Namun sayang, ketika saya ke sini tempat penangkaran kupu-kupu jebol oleh tragedi angin kencang dan menyebabkan kupu-kupu tersebut terbang dan menghilang entah ke mana. Eits! Jangan sedih, karena masih banyak hal yang dapat dinikmati seperti air terjun bantimurung dan perairan yang berwarna hijau. Sepanjang jalan saya ditemani oleh rerimbunan pohon dan angin semilir sepoi-sepoi. Pertama-tama saya mendatangi air terjun bantimurung, untuk menikmati segarnya air asli pegunungan. Lalu di sebelah kiri air terjun terdapat anak tangga yang akan membawa saya ke goa-goa prasejarah, namun karena keterbatasan waktu saya tidak sempat ke sana. Melihat perairan berwarna hijau nan indah dan asri cukup bagi saya untuk memanjakan mata. Biaya masuk untuk turis lokal sebesar 25k sedangkan untuk turis internasional sebesar 225k.



 

Situs Purbakala Leang-leang. Tidak jauh dari Kawasan Wisata Alam Bantimurung terdapat Situs Purbakala Leang-leang. Di sini terdapat bebatuan karst yang sudah berumur ribuan tahun dan goa prasejarah. Leang Pettakere, yang berarti goa bangsawan. Di dalam goa tersebut terdapat lukisan babi rusa dan telapak tangan manusia yang menjadi bukti peninggalan manusia purbakala. Gambar telapak tangan sendiri bertujuan sebagai tolak bala.






Sungai Pute menuju Desa Rammang-rammang. Selanjutnya saya menuju ke Desa Rammang-rammang di Kabupaten Maros dengan melewati Sungai Pute. Saya menggunakan perahu kayu dengan motor tempel untuk menuju sana. Menyenangkan rasanya menyusuri Sungai Pute sembari menikmati pemandangan mangrove, nira, dan bebatuan cadas yang menjulang tinggi. Beberapa kali perahu saya juga meyusuri dalam goa. Sekitar 20 menit saya pun tiba di Desa Rammang-rammang. Rammang-rammang artinya sekumpulan awan atau kabut. Karena awan atau kabut sering turun di kawasan ini pada pagi hari atau ketika hujan. Di Desa Rammang-rammang saya dimanjakan dengan gugusan pegunungan karst dan hamparan sawah. Sayang, ketika saya datang sedang musim kemarau menyebabkan hamparan sawah menjadi kering. Selain itu, Desa Rammang-rammang dinobatkan sebagai desa dengan pegunungan karst terbesar kedua di dunia setelah kawasan karst Guilin di Cina Selatan. Di samping itu, kawasan karst hanya terdapat tiga di dunia yang ketiga berada di Halong Bay Vietnam. Setelah puas bersantai sembari makan siang dan menyantap kopi, saya dan pasukan melanjutkan perjalanan menuju Toraja selama delapan jam. Di perjalanan kami menemukan spot melihat sunset yang cantik sekali. 











To be continued... #3


Semoga tulisan saya bermanfaat bagi yang membacanya.
Love, Irena Nova Wijaya. 

Wednesday, September 30, 2015

The Mystically Beautiful and Unique Makassar-Toraja Trip #1

Pertama-tama saya ucapkan puji syukur kepada yang Tuhan YME dengan rahmat-Nya saya dapat menyelesaikan studi S1 Psikologi. Bye Skripshit! Welcome to unlimited holiday (Amin amin amin)! Ide berkelana ke Toraja tercetus setelah revisi skripsi selesai. "Gila, ini harus dirayakan! Saya harus pergi dari Jakarta," pikir saya. Setelah cari travel agent dan pasukan, sayapun siap berangkat! Hell yeah!

Hampir tertinggal pesawat. Sehari sebelum keberangkatan saya berencana tidur cepat, karena flight Jakarta-Makassar pukul 04.30 WIB. Tapi ya namanya manusia ya.. tidak ada yang sempurna.. (mencari pembelaan) saya baru terbangun pukul 03.30 WIB. Jeger! Sport jantung rasanya! Belasan missed call dan puluhan chat dari teman sudah masuk di HP! Pasrah, tanpa basa basi saya langsung berangkat, dengan kondisi barang yang belum di packing sempurna, bodo amat. Oh ya, pasukan perjalanan kali ini berjumlah tiga orang, yaitu Maureen, Milla dan saya sendiri. Setiba di Bandara Soekarno Hatta, untungnya Maureen sudah check in terlebih dahulu, alhamdulillah masih kekejar :') Cusss tidur lagi hahaha.


Finally We Arrived! (Irena, Milla, & Maureen)

Welcome to Makassar.  Pukul 08.25 kami tiba di Sultan Hasanudin Airport, Makassar. Secara singkat, Makassar atau biasa disebut Ujung Pandang adalah Ibu Kota Provinsi Sulawesi Selatan. Kota Makassar termasuk kota metropolitan yang padat penduduk. Tidak seberapa lama tiba di airport kami dijemput oleh Kak Ayit, ia adalah tour leader selama kami di sini. Oke.. karena tadi pagi belum sempat sarapan, tujuan pertama kami adalah Pallu Basa Serigala. Walau namanya serigala jangan pikir memakai daging serigala ya, tetap pakai daging sapi kok hehe dan yang paling penting rasanya mantabs! Mungkin sejenis soto kalau di Jakarta tapi yang ini aroma kuahnya yang sedikit berbeda karena menggunakan serbuk kelapa sangrai dan santannya lebih kental. Dapat juga di campur telur ayam agar makin maknyosss! Pallu basa, nasi, dan telur seharga 25k.


Pallu Basa Serigala

Swim, Sleep, and Constantly Floating Away. Tidak lengkap rasanya liburan tanpa bermain air. Setelah bahan bakar terisi full tank (read: kenyang bego) kamipun menuju Pulau Samalona untuk snorkeling. Private snorkeling dikenakan biaya 600k tanpa batasan waktu. Kamipun tak tanggung-tanggung kami bermain di laut selama 5 jam, dari jam 10.00 hingga jam 15.00, hello nigga! Snorkeling dilakukan di dua titik, dekat Pulau Kodingareng Keke dan dekat Pulau Samalona, kami juga sempat bersantai di Pulau Kodingareng Keke. Well, bawah laut kedua pulau ini punya karakteristik yang berbeda. Di Kodingareng Keke kedalaman air kurang lebih 5m, terumbu karang beragam bentuk dan warna, terdapat juga ikan warna-warni yang dapat memanjakan mata. Nah, kalau di Samalona, titik snorkeling lebih luas dan lebih dalam, penghuni laut (baca: ikan-ikan lucu) juga lebih beragam warnanya. Namun, di kedua titik ini tetap hati-hati dengan bulu babi ya! Kesan saya setelah snorkeling di kedua titik ini adalah sangat seru karena berasa punya laut pribadi :p




















It's Noodle Time. Setelah menghabiskan cadangan lemak di laut, mari kita timbun lemak kembali hahaha. Kami makan malam di Mie Titi, mie kering khas makassar. Mie Titi ini sejenis i fu mie, yaitu mie kering yang di siram dengan kuah kental. Rasanya gurih dan manis, dengan taburan irisan ayam, baso, dan sawi. Yum yum!


Mie Titi Makassar




To be continued... #2

Semoga tulisan saya bermanfaat bagi yang membacanya,
Love, Irena Nova Wijaya.

Tuesday, August 11, 2015

Sabang Merauke Batch 3: Bermain dan Berkreasi


Setelah Orientasi Sabang Merauke yang dilaksanakan minggu lalu, pada hari senin 10 Agustus 2015 tibalah hari pertama dari serangkaian kegiatan Sabang Merauke Batch 3. Tema kegiatan Sabang Merauke Batch 3 hari pertama adalah Bermain dan Berkreasi. Seperti biasa, meeting point dilakukan di Taman Jenggala, tepat di seberang head office Indonesia Mengajar. Pagi hari sebelum keberangkatan tampak antusisme dari Anak Sabang Merauke (ASM) dan Kakak Sabang Merauke (KSM) yang masing-masing berjumlah 15 orang. Mereka tidak datang tepat waktu, namun datang sebelum jam yang ditentukan. Hebat sekali! Setelah melakukan persiapan dan briefing oleh Penanggung Jawab Harian (PJH), yaitu Kak Meiske. Kamipun berangkat menggunakan Elf yang disediakan oleh PT Asuransi Cigna menuju Kampus Bina Nusantara (BiNus) Internasional. 

  
Setiba di Kampus BiNus Internasional, ASM diminta kembali mengucapkan peraturan emas yang dibuat oleh Kak Putri. Peraturan tersebut wajib ditaati selama melaksanakan kegiatan Sabang Merauke Batch 3. Merekapun mengucapkan bersama-sama dengan lantang, “Satu, semua pertanyaan adalah baik, dua, semua karya adalah keren, dan tiga, hargai yang berbicara.” Ya! ASM dan KSM siap melaksanakan kegiatan Bermain dan Belajar hari ini.

Kegiatan diawali dengan perkenalan oleh Kakak-kakak dari Kampus BiNus Internasional. Tugas ASM hari ini adalah membuat kartu ucapan untuk berbagai perayaan agama di Indonesia. Seperti yang kita ketahui Indonesia memiliki enam agama utama yaitu Buddha, Hindu, Islam, Katolik, Kristen, dan Kong Hu Cu. Kelompokpun dibagi, di mana dalam satu meja berjumlah 5-8 orang yang terdapat ASM, KSM, dan Kakak dari BiNus. Setiap kelompok terdiri dari berbagai macam agama. Setelah diberikan instruksi dan contoh, ASM mulai bekerja membuat kartu ucapan dengan bantuan KSM. Oh ya, kartu ucapan yang dibuat ASM bukanlah kartu ucapan biasa melainkan kartu ucapan kreatif seperti bermodel pop up, pintu ajaib, angpao, ketupat, dan lain-lain. Semangat ASM pun terlihat dalam kegiatan ini, seperti Febri asal Riau yang dengan antusias menjelaskan arti bunga teratai di agama Buddha.



Setelah itu, acara dilanjutkan dengan sharing tradisi perayaan di daerah asal ASM. Dengan percaya diri Nisa asal Sumatera Utara mengacungkan tangannya dan bercerita. Di tempat Nisa terdapat Kerja Tahunan, yaitu pesta yang mengundang keluarga dekat dan jauh lalu membuat makanan yang bernama Cimpa. Biasanya pada saat Kerja Tahunan tidak ada rakyat yang pergi ke ladang. Lalu, Saifullah asal Nusa Tenggara Barat tidak kalah semangat, ia bercerita tentang makanan tradisional daerah asal yaitu Cacan. Terakhir, Rosmiati asal Jawa Barat yang bercerita tentang Pesta Laut dengan mengarak dan memotong kerbau.

Setelah sharing, Tim dari BiNus Internasional mempresentasikan cara-cara membuat film. Sehabis presentasi, ASM dan KSM disuguhkan film karya Mahasiswa BiNus yang bercerita tentang Aceh. Di sini, ASM mendapatkan pelajaran bahwa film sangatlah bermanfaat, karena dapat menjadi sarana untuk mengenalkan budaya masing-masing daerah asal kepada banyak orang.

Sesi mengenai games bersama Kak Eko Nugroho dan tim adalah kegiatan selanjutnya. Beliau adalah CEO dan co-founder Kummara, yaitu board game developer pertama Indonesia. Kak Eko menanamkan rasa toleransi akan perbedaan melalui games, beliau berkata “Dengan bermain kita tidak peduli dengan perbedaan karena kita memiliki tujuan yang sama, Tuhan menciptakan perbedaan untuk dirasakan dan dirayakan bukan diributkan.” ASM dan KSM pun berkesempatan mencoba games ciptaan Kak Eko dan tim, yaitu The Festivals of Indonesia. Tema dari games ini pun keragaman dan keindahan tempat-tempat di seluruh Indonesia. Kelompokpun di bagi menjadi empat orang setiap kelompok. Setiap kelompok dibagikan satu buah games. Selama mencoba games teriakan riang, celotehan canda, dan mimik lucu tidak henti-hentinya terlihat pada wajah ASM maupun KSM. Sungguh menyenangkan sekali. Diakhir acara Kak Eko Nugroho dan tim memberikan games ciptaannya secara gratis kepada Sabang Merauke. Terima kasih banyak!



Setelah sesi bersama Kak Eko Nugroho dan tim selesai, ASM diminta melakukan refleksi atas apa yang sudah mereka lakukan dan apa yang mereka dapatkan dari teman-teman sesama ASM sehari ini. Sebagian besar dari mereka menjawab mempelajari toleransi akan ragam agama dan budaya. Dan ada juga yang menjawab belajar mengenai makna bermain, film, dan kesenian. Refleksi usai, selesai sudah kegiatan Bermain dan Berkreasi Sabang Merauke Batch 3 hari pertama.


Semoga tulisan saya bermanfaat bagi yang membacanya
Love, Irena Nova Wijaya

Monday, July 27, 2015

Memperingati Hari Anak Nasional

Di Indonesia, Hari Anak Nasional jatuh pada tanggal 23 juli sesuai dengan Keputusan Presiden no 44 Tahun 1984. Berbeda dengan beberapa negara lainnya seperti di Jepang dan Korea Hari Anak diperingati setiap tanggal 5 Mei, di India Hari Anak diperingati setiap tanggal 14 November, sedangkan Hari Anak Internasional diperingati setiap tanggal 1 Juni.

Sayangnya, tidak banyak anak-anak Indonesia yang tahu bahwa Hari Anak Nasional diperingati setiap tanggal 23 Juli. Apabila semua anak merayakan Hari Anak Nasional, bayangkan, terdapat 67 juta anak Indonesia (CIA World Factbook) yang bergembira merayakan Hari Anak Nasional. Anak akan merasa gembira, termotivasi, dan berharga. Hadiah apa yang akan anda berikan? Apakah hadiah tersebut bermanfaat? Apakah anak akan menerima hadiah dengan hati yang gembira? Apapun hadiah yang akan diterima anak, asalkan diberikan dengan niat yang baik serta ketulusan pasti akan tersampaikan dan bermanfaat bagi anak. 

Anak bagaikan sebuah kanvas putih. Seiring waktu kanvas tersebut akan diwarnai dengan warna-warni kehidupan. Keluarga dan lingkungan berperan penting mengarahkan warna apa yang akan ditoreh pada kanvas tersebut. Attachment dan pola asuh menjadi awal mula interaksi anak dengan pengasuh yang akan membantu anak bagaimana ia akan melihat dunia. Faktor genetik dan temperament tentu juga akan terlibat. Tidak ada lukisan yang sempurna. Semua tergantung persepsi setiap individu. Setiap lukisan memiliki latar belakang yang berbeda, memiliki teknik melukis yang berbeda, serta taburan finishing yang berbeda. Namun tidak ada seniman yang ingin membuat lukisan yang buruk. Seniman yang baik akan berusaha membuat lukisannya terlihat indah, membawa kebahagiaan bagi penikmatnya, serta berguna bagi banyak orang.

Namun, kenyataannya masih banyak kejadian yang memprihatinkan kita semua:
1. Dari 70,5 juta anak Indoensia, 17,7 juta (25%) dalam kondisi terlantar dan hampir terlantar (17 Desember, Kompas). 
2.  Jumlah anak (10-17 tahun) yang bekerja pada tahun 2005 di Indonesia mencapai 35,0 juta orang (Survei Angkatan Kerja Nasional yang dilakukan BPS).
3.  Jumlah penduduk miskin di Indonesia ada 31 juta. Banyak anak yang hidup dalam kondisi di garis kemiskinan dan dibawah garis kemiskinan (BPS, 2010).
4.  Tahun 2011 terdapat 28 persen dari 2.266 keluhan adalah kekerasan seksual yang di dalamnya termasuk kasus pelecehan seksual, perkosaan, dan eksploitasi seksual dengan latar belakang ekonomi.
5. Komisi Perlindungan Anak Indonesia mencatat dari tahun 2011 hingga 2013 terdapat 7.650 kasus kekerasan terhadap anak Indonesia, dengan 30,1% dari jumlah tersebut atau sebanyak 2.132 kasus berupa kekerasan seksual.
6. Tahun 2009 terdapat jumlah penduduk berumur 5-12 tahun yang bekerja mencapai 674,3 ribu jiwa atau mencakup sekitar 16,64 persen dari jumlah total pekerja anak (penduduk usia 5-17 tahun) yang mencapai 4,05 juta orang.


Memprihatinkan bukan? Sebagai penerus bangsa anak memerlukan perhatian yang sangat serius. Anak memerlukan kelembutan serta kasih sayang dari keluarga, lingkungan, dan tentunya pemerintah. Anak yang tumbuh dalam keluarga yang harmonis akan tumbuh dan berkembang menjadi orang yang dapat memberi kasih sayang pada orang-orang yang ada di sekelilingnya. Ada baiknya kita meningkatkan kesadaran orang tua, masyarakat dan pemerintah untuk memenuhi hak-hak anak. Menghindarkan anak dari tindak kekerasan, melalaikan, dan eksploitasi. Dan yang terakhir, mendukung upaya penyejahteraan anak.



Love, Irena Nova Wijaya.
Semoga tulisan saya bermanfaat bagi yang membacanya.

Saturday, June 6, 2015

Pendakian Gunung Pangrango: Perjalanan Tiga Misi

Halo!
Tulisan saya kali ini mengenai perjalanan saya dan teman-teman dengan membawa tiga buah misi. Mau tahu apa saja? Baca terus ya!

Sebelum memulai perjalanan tentunya ada beberapa hal yang kami persiapkan. Latihan fisik, perlengkapan individu hingga perlengkapan kelompok. Belum lagi tetek bengek seperti perizinan, konsumsi, manajemen waktu, dan hal-hal lainnya. Tak jarang kepala jadi pening dan dompet jadi kering. Namun puji syukur sampai hari H tidak ada masalah yang berarti, kami siap berangkat menuju lokasi pendakian. Yeah!

Saya akan berbagi barang-barang yang kami bawa, semoga bermanfaat! Barang pribadi adalah carrier, sleeping bag, ponco, webbing, snack, peralatan makan, air, lighter, headlamp, senter, baterai cadangan, jaket, peluit, sandal, sepatu, kaos kaki, P3K, matras, trash bag, pisau lipat/cutter, tisu basah dan kering, pakaian, topi rimba, jam tangan, dan slayer. Sedangkan barang kelompok adalah konsumsi, peta, kompas, alat tulis, buku catatan, tunas, karung sampah, parafin, tramontina/golok, tenda, fly sheet, kompor, gas, nesting, tali rafia, plastik cor, kamera, garam balok, bendera, benang jahit, jarum, nilon, jarum nelayan, peniti, kancing, gunting, kain pancing dan tali pancing. Pastikan tidak ada satupun barang yang tertinggal, karena barang-barang tersebut sangat penting untuk menunjang kehidupan di tengah-tengah alam yang ganas hahaha.

Friday

19.00
Gedung utama. Di sini kami basa-basi kiri-kanan, makan malam, dan foto-foto. Pasukan yang ikut pada pendakian kali ini adalah Dorce, Tawon, Dangdut, Kangjen, Atun, Lutung, Bandot, Pacet, Katak dan saya sendiri (hayo tebak siapa? hahaha).


19.40
Grogol. Dengan menggunakan angkutan umum kami berangkat dari Grogol menuju Kp. Rambutan. Sampai di Kp. Rambutan kami menunggu bus menuju Puncak cukup lama, kira-kira satu jam. Kamipun memutuskan untuk mengecek barang bawaan dan.. oh oh! ternyata perbekalan makan malam hilang, ya nasi rendang hilang! Ok ini konyol.. kamipun akhirnya membeli makan di Stasiun Kp. Rambutan. Perjalanan Kp. Rambutan - Puncak/The Villas ditempuh selama 2 jam 30 menit.

Saturday

00.55
The Villas. Turun di depan The Villas kami disambut oleh Koor kami, Dwi Chandra. Setelah makan malam dan bersiap-siap kamipun memulai pendakian. Jangan lupa berdoa dan mempersiapkan mental!
02.15
Awal pendakian. Jalur awal yang dilalui adalah bebatuan di mana saya merasa agak berat, terus masuk ke dalam kamipun akhirnya menjejak tanah. Pendakian yang dimulai saat tengah malam menyebabkan satu-satunya penerang adalah head lamp yang kami digunakan. Kami sempat ragu dan menerka-nerka jalur mana yang akan membawa kami ke tempat tujuan. Beberapa kali kami harus membuka jalan sambil menandai jalan mana saja yang telah dilalui. Tak terasa, perlahan sinar matahari muncul dan pendakian menjadi lebih mudah. Ada saat di mana jalur menjadi terjal dan kami menggunakan webbing untuk mempermudah pendakian.




07.20 
Puncak Gn. Geger Bentang (Gerben). Alhamdulillah sudah sampai, saatnya meluruskan kaki dan sarapan. Menu gunung pertama kami adalah sup sosis, yum! Sedikit informasi, Gn. Geger Bentang memiliki ketinggian 2042 mdpl dan berada di punggung Gn. Pangrango. 




10.35
Side. Selesai sarapan di Puncak Gn. Gerben kami melanjutkan perjalanan ke Side. Side adalah satu titik di mana terdapat tanah lapang dan sudah terdapat vegetasi puncak gunung. Di sini Anda dapat mendirikan tenda atau sekedar beristirahat. Sebelumnya saya peringatkan.. pakailah pakaian yang pas ketika mendaki! Pas di badan juga pas di alam. Kenapa? Karena selama pendakian Puncak Gn. Gerben - Side salah satu anggota kami, Kangjen, menyalurkan bakat kreasi fashionnya alias (hampir) mengubah celana panjang menjadi hot pants hahaha! Sampai Side, akhirnya saya dan anggota wanita lain membantu menjahitkan kembali celananya. Ok kembali ke laptop! Karena ini adalah jam nanggung, kamipun mempersiapkan makan siang sambil berbagi tugas bakti alam. Bakti alam yang kami lakukan adalah menanam tunas pisang dan tunas nangka. Tunas-tunas tersebut kami tanam di beberapa titik. Tidak lupa operasi semut sebelum meninggalkan Side (operasi semut adalah kegiatan membersihkan wilayah yang telah digunakan). Di sini juga mulai terlihat pacet-pacet 'lucu' yang siap 'mencumbui dengan mesra' kulit mulus Anda, bersiaplah.. Setelah perut kenyang, hati senang, dan alam tenang kamipun melanjutkan perjalanan.




16.05 
Perjalanan menuju Mata Air. Hujan perlahan turun namun tidak deras. Cukup membuat kami berpikir, "Berapa lama perjalanan yang akan kami tempuh?". Kami memakai rain coat dan terus berjalan. Setelah hujan reda kami memilih istirahat sejenak. Di sini kami sempat bertemu dengan dua orang pendaki yang katanya nyasar dari Gn. Mas. Setelah energi sudah terkumpul, menjelang malam pendakian kembali dimulai. Perjalanan rasanya baru benar-benar dimulai, kami dihadapkan dengan jalur yang sangat sempit yang diapit oleh jurang. Oleh karena itu, diperlukan langkah dan kewaspadaan yang tinggi. Di perjalanan kami menemukan sebuah batang pohon yang terdapat XXX (maaf belum lulus sensor hahaha). Inilah misi pertama kami, membersihkan batang pohon tersebut hingga bersih. Kenapa menghapus batang pohon menjadi salah satu misi kami? Baik akan saya jelaskan, sebelum pendakian kali ini beberapa rekan kami sudah pernah melakukan pendakian dengan jalur yang sama. Namun Ia melakukan kesalahan, jadi tugas kami adalah membersihkan kesalahan tersebut. Ok! Misi pertama: sukses. Kami terus berjalan dan tak terasa matahari tak memperlihatkan lagi sinarnya. Udara malam dan energi yang terus menerus dikuras membuat badan menjadi dingin dan lelah. Beberapa kali kami istirahat dan menyalakan parafin. Jangan terlalu lama beristirahat di hutan karena akan membuat badan lemas dan kedinginan. Ada saat di mana saya sudah merasa lelah dan sangat mengantuk, namun beruntung memiliki teman-teman yang selalu saling mendukung. Semangat kawan! 
22.00
Mata Air. Akhirnya kami sampai juga setelah perjalanan yang sebentar. Ya, sebentar-sebentar istirahat.. sebentar-sebentar brainstorming.. sebentar-sebentar nimbang-nimbang ini itu (macam di pasar).. Lokasi Mata Air memiliki tanah lapang seluas sekitar 4 x 5 m dan dibagian kiri agak turun ke bawah terdapat mata air. Di sinilah kami akan mendirikan tenda dan bermalam. Kami membagi tugas, yang wanita mempersiapkan makan malam dan pria membangun tenda. Setelah perut terisi dan berganti baju kamipun melepas lelah di dalam sleeping bag rasa spring bed (you wish!). Selamat malam alam..

Sunday

06.00
Selamat pagi Mata Air! Bangun tidur dan langsung bergegas menikmati alam? Pastinya! Mumpung masih pagi, udara sejuk dan badan segar. Psst.. di sini juga terjadi balada muda antara Pacet dan Dorce, uhuuuy! Setelah sarapan dan bersiap-siap, kami memulai pendakian ke Puncak Gn. Pangrango. Let's go!



11.00
Mandalawangi. Ok kami sudah sampai di Mandalawangi, waktu yang ditempuh dari Mata Air sampai Mandalawangi sekitar 1 jam. Jujur saja, jalur Mata Air - Mandalawangi cukup sulit. Jalur yang cukup terjal dan terus menerus menanjak. "Kuatkan mental kami, alam!" Salah satu rekan kami, Katak, memilih untuk mendaki duluan agar kami tiba di Mandalawangi diwaktu yang sama. Tips mengahadapi kesulitan mendaki: minimalisir mengeluh karena hanya akan menyebarkan energi negatif! Tiba di Mandalawangi.. rasanya senang sekali "Akhirnya, yeaaay!". Cukup ramai pendaki yang berkemah di sini, mungkin karena weekend. Berbeda rasanya dengan hari kemarin, yang ketemunya lo lagi.. lo lagi.. mayan dah hari ini cuci mata ncuuuk! hahaha. Sebelum menuju puncak kami melakukan operasi semut di Mandalawangi selama 1 jam. 




12.15
Puncak Gn. Pangrango. Puji syukur sampai di puncak! Alhamdulillah semua anggota berhasil sampai, yang artinya Misi kedua: sukses! Gunung Pangrango memiliki ketinggian 3019 mdpl dan merupakan gunung tertinggi kedua di Jawa Barat setelah Gn. Ciremay. Setelah basa-basi dengan pendaki-pendaki lain, foto-foto, dan operasi semut kami turun kembali ke Mandalawangi lalu dilanjutkan kembali ke Mata Air.


14.15
Mata Air. Setelah lelah bolak-balik, kami memutuskan menikmati alam sebentar lagi, memberi makan cacing-cacing di perut, serta tidak lupa operasi semut. Menu dinner kali ini adalah pasta spaghetti rasa gunung. Psst.. jangan pernah membuang-buang makanan di gunung ya. Bon appetit!
18.45
Menuju Side. Kami berjalan menuruni gunung. Hari sudah gelap, kamipun berjalan dengan menyalakan headlamp/senter masing-masing (kecuali Lutung yang menggunakan senter "Pak RT" alias senter emergency hahaha). Perjalanan malam memang lebih enak, namun tingkat kewaspadaan juga lebih tinggi. Sekali lagi, Lutung, terjatuh dan hampir masuk jurang. Beruntung, Tuhan masih sayang sama kamu Nak :') Sepanjang perjalanan tak henti-hentinya kami menghitung jumlah anggota, pastikan anggota pendakian tidak berkurang atau bertambah ya hihihi. 
22.30
Side. Rencana awal kami adalah hanya untuk istirahat dan manyantap snack lalu kembali melanjutkan perjalanan. Namun karena satu dan lain hal kamipun melakukan voting. Apakah perjalanan akan kami lanjutkan atau bermalam sekali lagi? Akhirnya kami memutuskan kembali bermalam. Buka carrier lagi, mendirikan tenda lagi, dan menarik fly sheet lagi. Kali ini yang wanita ikut mendirikan tenda. Setelah tarik sana tarik sini, jadilah gubuk-gubuk baru kami. Selamat malam Side.. Selamat malam pacet-pacet nakal.. 


Monday

05.00
Wake up! wake up! Semangat lestari, kita kembali ke Jakarta! Sarapan pagi ini disponsori oleh anggota pria yang memasak nasi dengan durasi 2 jam, congrats! Selagi memasak kami berbagi tugas packing tenda dan carrier. Tidak lupa foto-foto dan ucapkan salam perpisahan pada pacet-pacet nakal, sehat-sehat ya kamu ncuuuuuk! (Yaps, saya sempat mengabadikan wajah-wajah gembira mereka selagi di gunung, katanya sih "You aren't wealthy until you have something money can't buy" aseeeek)









10.30
Puncak Gn. Gegben. Perjalanan pulang kami tempuh lebih cepat dari pada berangkat, sekitar 1 jam 45 menit. Di sini kami bertemu dengan pendaki-pendaki lain yang berasal dari Sentul. Seperti biasanya, kami basa-basi sampai basiii, menyantap snack, dan operasi semut. Terakhir, kaki kami melangkah turun, "Awak sebentar lagi pulang kampuang Bundoo!" 


14.30
The Villas. Setelah melewati jalur Puncak Gn. Gerben - The Villas yang diapit oleh jurang dan naik-turun bukit beberapa kali. Puji syukur kami semua sampai bawah dengan selamat tanpa kekurangan apapun. Semua sampah yang kami kumpulkan selama pendakian dan operasi semut kami bawa turun, ditambah penanaman bibit yang telah dilakukan, yang artinya misi ketiga: sukses! Dengan demikian, berakhirlah perjalanan tiga misi kami. Terima kasih kepada Tuhan YME yang memberikan rahmatNya kepada kami dan terima kasih kepada anggota MPM atas toleransi dan solidaritasnya yang tinggi. Jaya jaya jaya!



Semoga tulisan saya bermanfaat bagi yang membacanya.
Love, Irena Nova Wijaya.