Tuesday, May 14, 2019

Hari yang gerimis


Tawa belum tentu mengundang bahagia
Isi dompet belum tentu penghilang lara
Jenius belum tentu membuat tergeleng-geleng
Yang berkilau belum tentu membuat tercengang

Ketika ingin menutup kotornya diri.
Kau berpikir pura-pura adalah diri.
Sampai kau lupa aslinya diri.
Hingga tersadar tak lagi mengenal diri.

Kau menyambut penyesalan.
Ingin kembali atau menyalahkan?
Terlintas ingin memulihkan.
Namun tak tahu di mana permulaan.

Berharap menemukan kasih yang erat.
Memberikan tetesan harapan satu persatu.
Ternyata kasih hanya cermin diri yang kuat.
Bersama mewarnai dunia dengan tipu.


Love, Irena.


Tuesday, April 16, 2019

Berkunjung ke Museum Sasmitaloka Jenderal Besar A. H. Nasution



Halo!
Pada tulisan kali ini saya ingin berbagi pengalaman mengunjungi museum pahlawan di daerah Menteng. Yuk disimak!

     Beberapa tahun yang lalu saya pernah membaca ulasan tentang museum ini. Cerita yang menarik dan tragis membuat saya ingin mengenang jasa pahlawan. Namun karena satu dan lain hal saya baru sempat datang sekarang. Menurut info yang saya baca museum ini tidak dikenakan biaya masuk alias gratis. Di ulasan tersebut juga dijelaskan panjaga museum dengan aktif memandu pengunjung serta menjelaskan cerita-cerita di balik koleksi museum. Dan terakhir berikan tips untuk penjaga museum yang dengan semangat memandu pengunjung.
     Saya tiba hari minggu sekitar pukul 13.30 WIB. Museum ini dulunya adalah rumah tinggal dari Jenderal A. H. Nasution. Hingga akhirnya beliau wafat pada tahun 2000 dan pada tahun 2008 rumah ini menjadi museum. Jadi jangan heran kalau bentuk museum ini adalah rumah.

Image: http://letsgo2museum.blogspot.com

    
Ketika saya sampai, suasana terlihat sepi tidak ada pengunjung, petugas parkir, dan penjaga museum. Ketika saya cek pos, terlihat satu orang penjaga museum sedang beribadah. Ya sudah saya putuskan untuk melihat-lihat bagian depan dari museum.
      Ruangan depan terdapat patung Jenderal dan di bawahnya ada penjelasan singkat, yaitu “Korban kebiadaban G 30 S/PKI yang mengakibatkan tewasnya putri tercinta Ade Irma Suryani Nasution dan ajudannya Lettu Czi Piere Tendean. Negarawan sejati yang berkomitmen menentang faham komunis tumbuh subur di bumi Indonesia. Cendikiawan militer, peletak dasar perang rakyat semesta dan prajurit sejati yang selalu  menjaga kemurnian Pancasia dan keutuhan NKRI”. Selain itu juga terdapat plakat, lukisan, penghargaan, sofa dan meja tamu. Semua benda-benda ini adalah asli peninggalan sejarah.



     Lalu saya kembali mengecek penjaga museum karena saya ragu untuk masuk tanpa izin. Setelah bertemu penjaga, dikatakan pintu memang sengaja ditutup agar ruangan yang memakai AC tetap sejuk. Selebihnya pengunjung bebas masuk. Ya sudah tanpa ragu-ragu saya menyusuri ruangan-ruangan di museum ini. Ternyata dikunjungan saya tidak ada yang memandu. Sayapun berjalan mengikuti alur rumah.
     Rumah ini menjadi saksi sejarah pada tahun 1965 ketika pasukan Tjakrabirawa G 30 S/PKI berusaha menculik Jenderal Nasution namun gagal. Dalam peristiwa tersebut putri beliau, Ade Irma dan ajudannya, Kapten Pierre Tendean meninggal. Di dalam museum terdapat diorama penyerangan pasukan Tjakrabirawa di dalam rumah. Dari pasukan yang sedang mengendap di depan ruang tidur jenderal, jenderal memanjat tembok untuk melarikan diri, hingga diorama Ade Irma berlumuran darah yang sedang digendong Ibu Nas. Pada ruang tidur juga masih jelas bekas tembakan-tembakan pada malam itu. Terdapat bekas tembakan pada pintu, meja, dan dinding ruangan yang diberi tanda melingkar.
Image: https://travel.kompas.com 
Image: Instagram @davidnugrahaw

    
Selain itu museum ini juga menyimpan beberapa koleksi Jenderal, dari buku, pakaian, senjata, hingga perabotan rumah. Pada bagian belakang rumah terdapat mobil Jenderal yaitu mobil Volvo dengan plat 02-00. Selain itu, terdapat juga beberapa koleksi Ade Irma, seperti pakaian dan boneka kesayangannya. Pada bangunan terpisah dari rumah utama. Terdapat diorama ketika Kapten Pierre Tendean tertangkap pasukan Tjakrabirawa. Beliau akhirnya diculik, dibunuh, dan dibuang ke lubang buaya.

Image: https://www.kompasiana.com/Choirul Huda

    Datang ke musem membuat saya merasakan “aroma” perjuangan yang terasa lebih kental. Perasaan ngeri dan terharu juga menjadi satu ketika memasuki tiap ruangan sembari membayangkan kejadian malam itu. Museum ini membuka mata akan perjuangan bangsa, memaknai akan pentingnya kehidupan bertanah air, serta memberikan dorongan untuk menjaga persatuan bangsa Indonesia.


Semoga tulisan saya bermanfaat bagi yang membacanya.
Love, Irena.


Friday, March 15, 2019

Tips Efektif Mengerjakan Skripsi


Halo semuanya!
Di tulisan kali ini saya ingin berbagi tips mengerjakan skripsi. Selain skripsi, tips ini juga bisa dilakukan bagi yang sedang mengerjakan project kuliah, project kerjaan, tesis dan sebagainya.

1. Buat logbook pribadi
     Buatlah jadwal harian dari awal kalian mengerjakan penelitian. Buat tabel dengan rapi yang berisikan nomor, tanggal, tempat kegiatan dan kegiatan. Pada ‘kegiatan’ tulislah target-target yang ingin kalian selesaikan pada tanggal itu. Nah, biasanya saya membuat target per 3 hari. Jadi misalkan hari ini tanggal 1, biasanya saya akan menuliskan kolom kegiatan untuk target-target 3 hari ke depan. Kalau kalian bisa membuat jadwal ini lebih panjang akan lebih baik. Misalkan membuat target per 1 minggu / per 2 minggu / per 1 bulan. Senyamannya kalian. 

2. Disiplin dengan diri sendiri
     Ketika kita sudah menetapkan target untuk diri sendiri maka selesaikanlah target tersebut. Untuk waktu tertentu, misalkan sakit atau pekerjaan sedang menumpuk. Maka tetap kerjakan target itu di hari esok dan jangan lupa selesaikan target yang memang dibuat di hari itu. Misalnya, kalian tidak sempat mengerjakan target di tanggal 2, maka kerjakan di tanggal 3 ditambah dengan target yang kalian tulis ditanggal 3.

3. Bina hubungan baik
     Bina hubungan baik dengan dosen juga meliputi mendengarkan omongannya, melakukan saran yang diberikan, dan berdiskusi dengan sopan. Ada kalanya kita bimbingan tapi pikiran kita tidak here and now, belajarlah untuk mindfulness. Pastikan ketika bimbingan kita sudah melakukan saran-saran yang diberikan dosen dipertemuan sebelumnya, kalau bisa lakukan lebih dari disarankan. Sebagai mahasiswa terkadang kita punya idealism sendiri, tapi tetaplah terbuka dengan masukan-masukan. Selanjutya ketika ada sesuatu tidak berkenan diskusikan dengan baik dan sopan.

4. Keep going
     Kerjakan terus meskipun stuck. Saat tidak tahu harus mengerjakan apa, paksakan membuka laptop, buat cover, nyicil buat daftar isi, kata pengantar, perbaiki daftar pustaka atau sekedar membeli kertas HVS untuk nge-print. Jangan berhenti.

5. Reward yourself
     Meskipun sedang memperjuangkan sesuatu kebahagiaan kita merupakan hal yang penting. Ketika sudah mencapai target tertentu berilah “hadiah” untuk diri sendiri. Hadiahi dirimu dengan hal-hal yang membuat kamu rileks, damai, bahagia, dan memotivasi.

“Rumus kesuksesan adalah usaha dan doa.
Berusaha tanpa berdoa sama dengan sombong dan
berdoa tanpa berusaha sama dengan bohong.”





Semoga tulisan saya bermanfaat bagi yang membacanya.
Love, Irena.



Friday, February 15, 2019

Pengalaman Steril Kucing di PUSKESWAN


Halo semuanya! Tulisan kali ini saya ingin berbagi beberapa pengalaman saya melakukan steril kucing di PUSKESWAN Ragunan. Yang ingin steril kucing atau sekedar ingin tahu, yuk disimak!

     Sebelumnya apa sih PUSKESWAN itu? PUSKESWAN adalah singkatan dari Pusat Kesehatan Hewan, dengan kata lain tempat pengobatan atau perawatan kesehatan hewan yang dikelola oleh pemerintah. Biasanya biaya pengobatan di PUSKESWAN juga relatif lebih murah.



    Pengalaman pertama saya dimulai dari bulan September 2018. Saya menelepon PUSKESWAN Ragunan untuk menanyakan info mengenai steril kucing. Kalau kalian mau ke PUSKESWAN daerah lain mungkin akan berbeda pula pengalamannya. Pada saat itu saya ingin mensteril kucing jantan ras. Jadi di telepon saya menanyakan prosedur kucing jantan bila ingin steril, dikatakan kucing harus puasa 8 jam sebelum operasi (steril) dan alat kelaminnya sudah terlihat/turun. Selanjutnya petugas menjadwalkan kapan kucing saya dapat steril. Kira-kira saya dapat jadwal jarak 10 hari setelah telepon. Terakhir, saya juga diinfokan pembayaran harus menggunakan Jak-Card (dari Bank DKI). Untuk biaya kucing ras maupun domestic sama.
     Hari H saya datang sekitar pukul 9 pagi, untuk steril kucing tidak perlu mengambil nomor antrian, cukup infokan ke petugas sudah janji untuk steril. Tidak lama menunggu, nama kucing saya dipanggil. Lalu saya masuk ke ruangan belakang. Saya diminta untuk mengisi formulir tindakan dan pernyataan. Di formulir ini juga tertera biaya tindakan sebesar Rp300.000,00 (Rp50.000,00 untuk pemeriksaan dan pengobatan, Rp250.000,00 untuk operasi besar). Setelah mengisi formulir dan melakukan pembayaran saya diminta untuk meninggalkan kucing dan menjemput lagi pukul 3 sore. Selanjutnya saya meninggalkan PUSKESWAN dan menjemput kucing lagi di sore hari. Ketika saya jemput, keadaan kucing saya mata merah, tidak mau makan, dan perilakunya ling-lung. Hal itu wajar karena masih dipengaruhi obat bius. Dokter juga memberikan saya resep obat yang bisa saya tebus di apotik mana saja. Setelah itu saya langsung menuju ke apotik untuk menebus obat. Sesampai di rumah saya langsung memasukkan kucing ke dalam kandang. Selama 1 minggu kucing tidak saya keluarkan dari kandang (kandang saya cukup luas ukuran 3 lantai) karena saya ingin memantau kesehatannya. Selama 1 minggu saya lebih sering memberi makanan basah agar makannya lahap dan kesehatannya cepat pulih. Setelah satu minggu keadaan kucing baik-baik saja, lalu saya bebaskan kembali.
     Pengalaman kedua saya adalah steril kucing betina domestik. Bulan Desember 2018 beberapa kali saya menelepon PUSKESWAN tidak diangkat. Saya sempat ragu apakah saya bisa datang untuk steril kucing tanpa janjian. Sampai akhirnya Februari 2019 pukul 8 pagi saya nekat datang ke PUSKESWAN untuk steril tanpa janjian. Saya ikut mengantri (mengambil nomor dan mengisi formulir) seperti kucing-kucing yang mau pemeriksaan. Setelah mengisi formulir saya menemui petugas dan mengutarakan maksud untuk steril kucing. Sempat ditanya, “sudah telepon belum?” lalu saya jawab, “sudah tapi tidak diangkat”. Dan.. alhamdulillah petugas memperbolehkan kucing saya melakukan steril, ternyata masih ada kuota. Melakukan steril untuk kucing betina memang lebih sulit dibandingkan jantan, karena proses operasinya lebih rumit. Seperti pengalaman sebelumnya, lalu saya membayar biaya steril Rp300.000,00 menggunakan JakCard, meninggalkan kucing di PUSKESWAN dan menjemput kembali sekitar pukul 3 sore. Ketika menjemput, dokter menyampaikan bahwa 3 hari lagi kucing harus ke dokter untuk mengontrol jaitan. Kontrol bisa dilakukan di PUSKESWAN atau Vet di dekat rumah. Selain itu dokter juga memberi resep obat yang harus ditebus.
     Keadaan kucing saya setelah operasi masih linglung (efek obat bius) dan cenderung tidak mau makan. Namun ketika malam hari saya cek lagi, ternyata makanan basah yang saya taruh sudah dilahap habis. Selama 3 hari kucing saya taruh di dalam kandang sendirian, tidak lupa 2 kali sehari juga diberi obat. Setelah 3 hari saya putuskan kembali ke PUSKESWAN saja. Ketika kontrol Alhamdulillah keadaan kucing sehat dan luka jaitan sudah rapi tertutup. Terakhir, dokter menyuntikan anti radang ke leher atas kucing. Untuk biaya pemeriksaan dan pengobatan hari ini adalah Rp50.000,00. Kata dokter obat yang kemarin dihabiskan saja, kucing sudah boleh dilepas tapi mesti diperhatikan. Karena saya khawatir, akhirnya sampai rumah kucing tetap saya taruh kandang selama 4 hari kedepan sembari menghabiskan obat. Sekarang keadaan kucing saya sudah lincah dan sehat seperti biasa 😊





Semoga tulisan saya bermanfaat bagi yang membacanya.
Love, Irena.


Tuesday, January 15, 2019

Main ke Tempat Penampungan Hewan!



Halo halo halo!

     Kali ini saya ingin berbagi pengalaman berkunjung ke tempat penampungan hewan. Ini adalah pengalaman pertama dan terasa menyenangkan! Singkat cerita, kenapa saya ke sana? karena ingin mencari kucing saya yang hilang, namanya Billy :( saya berharap ada yang menemukan Billy atau Billy kena sweeping lalu berakhir di tempat penampungan. Jadi saya tinggal menjemputnya, tapi ternyata Billy tidak ada di sana.. hiks.
     Tapi di luar itu ada beberapa hal yang dapat saya bagikan untuk kalian semua.
    Nama tempat ini adalah Pondok Pengayom Satwa di daerah Ragunan. Saya ke sana hari sabtu  12/01/2019 sekitar pukul 14.00. Di tempat ini terdapat klinik hewan, tempat penitipan hewan, tempat rawat inap, mandi, kremasi, kubur, dan adopsi. Oh ya, juga ada petshop nya! Cukup lengkap ya? Ketika baru sampai, saya langsung di sambut beberapa anjing yang sedang duduk di depan pintu masuk. Anjing-anjing ini tidak mengganggu hanya menikmati udara sore di teras.


     Ketika masuk saya langsung bertemu dengan petugas yang sedang duduk santai. Lalu saya mengutarakan maksud untuk melihat-lihat kucing yang dapat diadopsi atau kucing-kucing yang di tampung di sini. Selanjutnya saya diantarkan ke bangunan yang diberi nama Rumah Kucing, lucu sekali ya :) Lantai satu berisikan beberapa kamar seluas sekitar 1,5 X 1,5 m, yang masing-masing kamar berisikan 1 sampai 3 kucing. Tapi ada juga beberapa kucing yang dibebaskan di ruang tengah. Kenapa dipisah-pisah? Kata pertugas, agar tidak berkelahi.


     Lalu saya naik ke lantai dua, saya hanya sebatas tangga teratas karena pintu ke ruang tengah lantai dua di kunci. Tapi karena pintu dan pembatasnya terbuat dari jaring-jaring, otomatis saya bisa melihat kucing-kucing di lantai dua. Di lantai dua ini tidak ada kamar-kamar, hanya ruangan yang cukup luas. Di sini banyak sekali kucing, mungkin sekitar 15 -20 ekor. 
     Secara kesuluruhan Rumah Kucing ini cukup bersih, terdapat tempat-tempat air minum di berbagai sudut, terdapat bak pasir, namun yang saya lihat tidak ada makanan. Mungkin ketika saya datang sudah lewat jadwal makan para kucing. Sejujurnya saat itu saya tidak tega melihat kucing-kucing yang mengeong-ngeong kepada saya. Ingin rasanya memberi makanan basah agar para kucing senang, tapi pada saat itu saya tidak membawa makanan kucing. Sayangnya, kurang persiapan. Jadi yang mau ke sini bawa makanan kucing ya! Kucing-kucing ini juga dapat diadopsi, namun dikenakan biaya, untuk biaya dapat didiskusikan dengan petugas.
     Keluar dari Rumah Kucing saya melihat sederatan kuburan hewan. Rata-rata hewan anjing dan kucing. Wah, melihat sederetan kuburan hewan merupakan hal baru untuk saya. Setiap nisan terdapat nama hewan serta tanggal lahir dan meninggal, seperti manusia ya? Petugas juga menjelaskan ada kuburan yang kosong tapi sudah ada batu nisan, itu karena pemiliki hewan sudah mem booking lahan untuk hewannya. Menurut petugas, lahan dikenakan biaya Rp70.000,00/tahun.


     Selanjutnya saya dibawa ke aula, di dalam aula ada beberapa kandang kucing dan anjing. Hewan-hewan ini ada yang sedang dititipkan, ada yang sedang rawat inap, dan ada juga yang dapat diadopsi. Selanjutnya saya masuk ke petshop nya, isinya lumayan lengkap dari makanan kering, makanan basah, dan lain-lain. Ketika saya berbelanja ada satu anjing yang mengikuti saya, mungkin dipikirnya makanan kucing yang saya pegang untuknya ya? hehe. Tapi untuk anjing-anjing dan kucing-kucing yang dilepas di sini sudah aman (tidak agresif dan bersikap friendly).
     Akhir cerita saya memang tidak menemukan Billy di sini, ya sudah yang penting sudah usaha. Mungkin selanjutnya saya ingin mencari Billy di tempat milik pemerintah yaitu Puskeswan. Karena yang saya dengar di sana juga ada tempat penampungan untuk kucing. Sekian cerita saya kali ini.





Semoga tulisan saya bermanfaat bagi yang membacanya.
Love, Irena


Friday, December 14, 2018

Rekomendasi Tempat Makan Vegan




Halo semuanya! Jadi akhir-akhir ini saya sedang tertarik dengan hal-hal yang berkaitan dengan vegan. Jadi tidak ada salahnya saya berbagi sedikit makanan-makanan vegan yang sudah saya rasakan.

     Sebelumnya saya mau menjelaskan, apa sih vegan itu? Mungkin orang-orang terkadang tertukar antara vegan dan vegetarian. Vegetarian adalah seseorang yang tidak mengkonsumsi daging, unggas, ikan, kerang, atau apapun yang berasal dari hewan. Sedangkan vegan adalah vegetarian yang juga tidak mengkonsumsi makanan turunan dari hewan, seperti susu sapi, madu, telur dan sebagainya. Yap, dua hal itu terlihat sama tapi sebenarnya berbeda. Oke kalau begitu mari saya rekomendasikan tempat makan vegan yang menurut saya enak!

1. Burgreens
Pondok Indah Mall Street Gallery Lt. 1, Jalan Metro Pondok Indah, RT.3/RW.16, Pd. Pinang, Jakarta Selatan

     Di sini saya mencicipi Vegan Rendang Burger. HUAA rasanya enak banget! Daging rendangnya diganti dengan jamur, jadi teksturnya cenderung kenyal. Selain itu tidak pakai santan, tapi soymilk. Suka! Buger rendang ini memakai roti gandum, disajikan dengan keripik ubi. Harga sekitar Rp65.000,00.



2. Eco Kitchen
Jln kusuma blok A3 no 27 ,taman dutamas jelambar, RT.2/RW.12, Jelambar Baru, Jakarta Barat

     Saya memesan martabak manis di sini. Aduh… enak, mau lagi.. Makan martabak di sini membuat saya merasa bersalah lebih sedikit hahaha! Karena biasanya martabak itu tinggi kalori tapi karena tanpa telur dan susu jadi rendah kalori. Untuk rasa hampir mendekati martabak non vegan. Waktu itu saya memesan martabak manis isi coklat dan wijen. Harga sekitar Rp40.000,00.





3. Rumah Juliet
Jl. Alpukat III No.52, RT.1/RW.2, Tj. Duren Utara, Grogol petamburan, Jakarta Barat

     Kalau kamu penggemar kue saya rekomendasikan ke sini. Saya penggemar slice cake tapi tidak suka yang terlalu manis, jadi ini cocok! Saya sudah mencoba dari choco ganache, gluten free classic choco, coconut pandan, salted caramel, choco greentea, berry choco, dan redvelvet.. favorite saya adalah choco ganache dan choco greentea.  Untuk donut saya sudah mencoba rasa double choco dan salted almond.. donutnya seenak donat kampung tapi harganya lebih mahal. Tapi tenang aja, ini setimpal karena ukuran lebih besar dan lebih sehat. Harga sekitar Rp22.000,00 – Rp30.000,00.




4. Starbucks
Pondok Indah Mall 2 Lg-sogo Foodhal, Jl. Sultan Iskandar Muda RT.1/RW.3, Jakarta Selatan

     Siapa yang tidak tahu dengan coffee shop ini? Memang tidak semua hidangannya vegan. Tapi baru-baru ini Starbucks mengeluarkan Vegan Cookie. Cookie dengan taburan chocochip ini lebih enak disantap dalam keadaan hangat, jadi lumer di mulut, nyum! Saya rekomendasikan menyantap cookie ditemani dengan americano, cocok! Mau dimakan hangat atau tidak, tekstur dari cookie ini memang tidak terlalu keras. Untuk harga Rp18.000,00.


5. Alpukat Bistro
Jl. Alpukat III No.52, RT.1/RW.2, Tj. Duren Utara, Grogol petamburan, Kota Jakarta Barat


    Tempat makan di sini menyajikan menu-menu yang cukup bervariatif. Dari burger, spaghetti, bakso, hotplate, lele, dan sebagainya. Saat itu saya memesan Nasi Beyond Pecel Lele. Ketika makanan datang saya merasa puas karena selain ‘lele’ juga disajikan dengan sayur asam, tahu, tempe, lalapan, dan sambal. Perbedaan dengan ikan lele asli ada di tekstur dan tingkat gurihnya. Tekstur lele asli lebih mudah untuk dipotong dan lebih gurih pada bagian kulitnya. Untuk rasa lelenya sendiri enak, apalagi dimakan selagi hangat. Selain itu rasanya kurang lebih mirip sama ikan lele asli, wow! Untuk harga sekitar Rp28.000,00.




Note:
     Sebenarnya masih ada beberapa tempat makan vegan yang sudah pernah saya cicipi seperti Loving Hut dan Dharma Kitchen. Tapi karena saya mencicipinya sudah lama sekaliiii jadi sudah agak lupa rasa dan harganya. Yang pasti saya tidak menyesal pernah makan di sana hehe. Mungkin saya akan kembali lagi dalam waktu dekat.
     Lalu, selain tempat makan di atas ada juga tempat lain yang baru-baru ini saya cicipi tapi karena tidak cocok di lidah jadi tidak dimasukkan ke dalam daftar list hehe.





Semoga tulisan saya bermanfaat bagi yang membacanya,
Love, Irena.


Thursday, November 15, 2018

Penulisan Kutipan dan Daftar Pustaka berdasarkan APA edisi 6



Halo semuanya!
Pada tulisan kali ini saya akan berbagi contoh penulisan kutipan dan daftar pustaka berdasarkan APA edisi 6 secara umum. Untuk penjelasan lebih detail kalian bisa langsung lihat bukunya yang berjudul Publication Manual of the American Psychological Associaton yang dipublikasikan oleh American Psychological Association di Washington, DC.

Kutipan

Tipe kutipan
Kutipan pertama
Format yang disisipkan, kutipan pertama
Satu penulis
Desyanti (2015)
(Desyanti, 2015)
Dua penulis
Nanda dan Widodo (2015)
(Nanda & Widodo, 2015)
Tiga penulis
Lohre, Lydersen, dan Vatten (2010)
(Lohre Lydersen, & Vatten, 2010)
Empat penulis
Hidayah, Pali, Ramli, dan Hanurawan, (2016)
(Hidayah, Pali, Ramli, & Hanurawan, 2016)
Lima penulis
Walker, Allen, Bradley, Ramirez, dan Soo (2008)
(Walker, Allen, Bradley, Ramirez, & Soo, 2008)
Enam penulis atau lebih
Alsa et al. (2015)
(Alsa et al., 2015)
Grup penulis (mudah diidentifikasi melalui singkatan)
National Institute of Mental Health (NIMH, 2003)
(National Institute of Mental Health [NIMH], 2003)
Grup penulis (tidak ada singkatan)
Universitas Indonesia (2006)
(Universitas Indonesia, 2006)

Tulisan tanpa nama penulis atau anonim
Kutip kata-kata awal pertama (biasanya judul)
Contoh:
Membangun Pembelajaran Menyenangkan bagi Siswa (2008)
(“Giliran Sukoharjo Dikunjungi Menko PMK,” 2007)

Sumber kedua
Bandura (dalam Schunk, 2001)
(Bandura dalam Schunk, 2001)

Komunikasi Personal
J. U. Suryadinata (personal komunikasi, 25 Oktober, 2018)
(J. U. Suryadinata, personal komunikasi, 25 Oktober, 2018)

Daftar Pustaka

Artikel jurnal
Anderman, E. M. (2002). School effect on psychological outcomes during adolescence. Journal of  Educational Psychology, 94(4), 795-809.

Artikel jurnal dengan DOI
Hendiani, N., Sakti, H., & Widiyanti, C. (2013). Hubungan antara persepsi dukungan keluarga sebagai pengawas minum obar dan efikasi diri penderita tuberkolosis di BKPM Semarang. Jurnal Psikologi, 12(1), 1-10.  doi:http://dx.doi.org/10.14710/jpu.12.1.1-10

Buku cetak
Shotton, M. A. (1989). Computer addiction? A study of computer dependency. London, England: Taylor & Francis.

Tesis atau disertasi dari database
Zulaikhah, S. (2017). Hubungan antara persepsi dukungan sosial orangtua dan iklim sekolah dengan kepuasan hidup pada remaja awal (Tesis Master, Universitas Gadjah Mada). Diunduh dari http://etd.repository.ugm.ac.id.  


Tesis atau disertasi yang tidak diterbitkan
Oktia, V. (2017). Pengaruh academic burnout dan academic engagement terhadap school well-being santri pesantren (Tesis Master tidak diterbitkan). Universitas Tarumanagara, Jakarta.





Semoga tulisan saya bermanfaat bagi yang membacanya.
Love, Irena.